Rabu, 15 September 2021

ANALISIS PUISI BERTEMA “ Pengorbanan Seorang Ayah”


 

Puisi Pertama

 Kerja Keras Sang Ayah

Ketika sang surya menyambut
Langitpun ikut cerah menyertai cuaca
Kesibukanmupun ikut menyambut
Demi menghadapi Dunia

Terik mentari yang menyengat
Derasnya hujan yang turun
Takkan pernah patahkan semangat
Meski hadapi segala rintangan

Demi anak dan istrimu
Kau rela korbankan waktumu
Untuk memenuhi kebutuhanmu
Serta suatu kewajibanmu

Belum ada yang dapat kami persembahkan
Kepada ayah, tumpuan masa depan
Hanya seucap kata terima kasih dan
Teriring doa serta harapan

 

Analisis Puisi

Bait pertama     :

Bait pertama pada puisi di atas menceritakan tentang kesibukan seorang ayah dalam bekerja yang dimulai dari pagi hari. Ini ditandai dengan kalimat “ ketika sang surya menyambut”. Frase ”sang surya” sama dengan sebuah matahari yang dapat kita artikan dengan pagi hari. Disana juga ada kalimat yang mengatakan “ demi menghadapi dunia”. Maksud dari kalimat tersebut adalah sang ayah bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Bait kedua        :

Pada bait kedua menjelaskan tentang kerja keras seorang ayah dalam mencari nafkah. Walau begitu banyak halangan, rintangan dan masalah yang dilalui, namun semangatnya dalam mencari nafkah untuk anak-anak dan istrinya tidak pernah surut.  

Bait ketiga        :

Bait ketiga berisi tentang keikhlasan hati seorang ayah dalam bekera. Demi keluarganya, ia rela kerja keras banting tulang mengorbankan waktu dan tenaganya demi menghidupi keluarganya. Ia tidak pernah mengeluh atau merasa terpaksa melakukan semua itu, karena ia menganggap itu adalah suatu kewajibannya.

Bait keempat    :

Bait ini menceritakan tentang pengakuan seorang anak kepada ayahnya, dimana sang anak tidak dapat meberikan apa-apa untuk membalas semua kebaikan ayahnya. Hanya kata terima kasih dan seucap do’a yang bisa ia panjatkan untuk ayah tercintanya.

Kesimpulan      :

Dari keempat bait di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang ayah adalah sosok yang sangat mulia, ia rela kerja keras banting tulang mulai dari pagi hari hingga petang hanya untuk memenuhi kebutuhan keluaraganya. Walaupun begitu banyak masalah yang didapatkan namun selalu ia hadapi. Ia juga melakukan semua itu dengan ikhlas tanpa mengharapkan apa-apa, tanpa memperdulikan dirinya sendiri. Ia menganggap kerja kerasnya itu adalah suatu kewajiban yang harus ia lakukan. Atas semua itu, sang anak tidak akan bisa membalas semua kebaikan itu dengan apapun juga. Hanya ucapan terima kasih dan do’a yang tuluslah yang bisa ia persembahklan untuk ayah tercintanya.

 

 

Puisi Kedua

 Pengorbanan Seorang Ayah

Kau bagaikan mentari diwaktu pagi
Dan bagaikan rembulan diwaktu malam
Kau adalah sumber kehidupan kami
Dan pelindung kami di malam yang kelam

Suara nyanyian burung di pagi hari
Suara gemericik air yang nyaring
Kau bekerja keras beralaskan kaki
Rela menderita demi anak yang malang

Demi kami keluargamu
Yang menjadi tanggung jawabmu
Kau hidangkan kami senyum palsumu
Dan kau sembunyikan penderitaanmu

Sungguh besar jasa-jasamu
Untuk membalasnya kami takkan mampu
Terimakasih atas pengorbananmu
Yang menjadi tumpuan bagi keluargamu
 

Analisis Puisi

Bait pertama     :

Pada bait pertama ini menceritakan tentang keberadaan seorang ayah bagi anaknya. Ayah selalu menghangatkan keluarganya dengan kebaikan, kerja keras, kasih sayang dan perhatiannya kepada keluarganya. Ini ditandai dengan kalimat “ Kau bagaikan mentari di waktu pagi”. Mentari pagi bisa diartikan sebagai penghangat tubuh oleh cuaca pagi yang dingin. Kemudia pada kalimat pada baris kedu yang mengatakan bahwa “ Dan bagaikan rembulan di waktu malam”. Ayah adalah seorang penerang bagi keluarganya, terutama anak-anaknya. Maksudnya disini adalah, ayah selalu memberikan nasihat-nasihat yang baik pada anak-anaknya sehinhgga anak-anaknya bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik dan mampu menjalani kehidupannya dengan bahagia. Pada kalimat ketiga, sang anak mengakui bahwa ayahnyalah yang menjadi sumber kehidupannya, dan ayahlah yang selalu melindunginya dari kesulitan, yang ditandai dengan kalimat “ dan pelindung kami di malam yang kelam”. Malam yang kelam bisa juga diatikan sebagai kesulitan atau penderitaan.

Bait kedua        :

Bait kedua menceritakan tentang seorang ayah yang rela banting tulang menghidupi keluarga, tanpa pernah memikirkan dirinya sendiri. Ia melakukan semua itu karena rasa sayangnya kepada keluarganya.

Bait ketiga        :

Puisi pada bait ketiga menceritakan tentang keikhlasan seorang ayah dalam bekerja keras mencari nafkah. Walau sangat lelah namun ia tidak pernah memperlihatkannya. Saat pulang ke rumah, hanya senyum palsu yang ia tampakkan.maksudnya disini adalah, ia pura-pura tersenyum padahal rasa lelah sealu menyelimuti dirinya. Tak pernah sedikitpun ia tampakkan penderitaanya.

Bait keempat    :          

Bait ini berisi tentang ucapan terima kasih sang anak kepada ayahnya, karena hanya itu yang dapat ia berikan untuk mebalas semua jasa-jasa ayahnya.

Kesimpulan      :

Ayah adalah seorang pelindung keluaraga. Menjadi penasihat bagi anak-anaknya sehingga anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik dan mampu manjalani kehidupannya dengan bahagia.selain itu ayah adalah tumpuan bagi keluarganya, ayahlah yang kerja keras mencari nafkah. Ia melakukansemua itu dengan ikhlas tanpa memperlihatkan sedikitpun penderitaan pada anak-anak dan istrinya. Hanya ucapan terima kasih yang bisa diberikan oleh keluarga atas semua kerja keras itu.

 

Puisi Ketiga

 Kegigihan Seorang Ayah

Selalu, kau melangkah tanpa ragu
Walau sejuta rintangan menghalang
Tetapi semua itu tak nampak dalam rautmu
Demi kehidupan yang menentang

Begitu banyak lagi kau berikan
Begitu banyak pengorbananmu untuk kami
Takkan pernah kami lupakan
Demi kami, anak dan isterimu yang menanti

Engkau rela kehujanan
Badaipun ikut menerjang
Engkaupun rela kepanasan
Dengan gagah dapat kau terjang

Sungguh besar pengorbananmu
Hanya dapat kubalas dengan
Budi pekerti dan kebaikanku
Serta sebuah doa dengan keikhlasan

 

Analisis Puisi

Bait pertama     :

Ayah selalu berjuang tanpa henti dan menghadapi semua rintangan yang menghadangnya. Ia terus bekerja demi menghidupi keluarganya. Rasa lelah dan masalah tidak pernah sedikitpun ia tampakkan di depan mereka.

Bait kedua        :

Kami anak-anak dan istrimu tidak akan pernah melupakan semua jasa dan pengorbanan yang telah kau lakukan untuk kami. Semua itu akan selalu tertanam dalam hati.

Bait ketiga        :

Seorang ayah akan rela menderita menghadapi semua masalah agar keluarganya dapat hidup dengan bahagia. Ini ditandai dengan kalimat “ badaipun ikut menerjang”. Kata badai diibaratkan sebagai sebuah masalah yang besar. Walau masalah sebesar apapun yang menghadanya namun ia tetap semangat untuk bekerja.

Bait keempat    :

Segala pengorbanan dan kerja keras sang ayah hanya dapat dibalas dengan budi pekerti, prilaku yang baik serta do’a oleh anak-anak dan istrinya, karena hanya itu yang dapat diberikannya.

Kesimpulan      :

Sang ayah selalu giat bekerja dan menghadapi semua masalah yang menghadangnya. Pengorbanan tersebut tak akan pernah dilupakan oleh keluarganya. Pengorbanan yang begitu besar. Sang ayah rela menderita dan berjuang dengan apa adanya. Hanya akhlak dan prilaku yang baik serta do’a yang tulus yang bisa diberikan oleh keluarga untuk membalas semua itu.

  

Puisi Keempat

Laki-laki Panutan

Gayamu tak selembut sutera
Tuturmu tak seindah kelopak bunga
Tapi Pengabdianmu pada keluarga
Laksana matahari terangi jagat raya

Mahkota bukan senjatamu
Kursi raja bukan obsesimu
Hanya jujur jadi prinsipmu
dan Tanggung jawab jadi kekuatanmu

hai...Laki-laki panutan
Tiap tindakmu tertanam didadaku
Tiap langkahmu terpatri disanubariku

Ayah...Kaulah Kebanggaanku
Panutan Hidupku

 

Analisis Puisi

Bait pertama     :

Ayah adalah sosok yang sederhana dan tak banyak berkata-kata. Namun pengabdiannya pada keluarganya sangat bersar. Ini ditandai dengan kata-kata “ selembut sutra, seindah kelopak bunga, dan matahari terangi jagat raya”. Kata sutra identik dengan kelelmbutan yang diibaratkan dengan gaya sang ayah. Kelopak bunga menggambarkan tentang keindahan yang diibaratkan dengan tutur sang ayah. Sedangkan matahari terangi jagat raya diibaratkan dengan pengabdian sang ayah yang tak pernah henti kepada keluarganya.

Bait kedua        ;

Ayah tidak pernah mencari kekuasaan dalam bekerja.kekuasaan disini ditandai dengan kata “mahkota” dan “ kursi raja” Tujuannya semata-mata hanya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, agar kelurganya tidak kekurangan satu apapun. Hanya kejujuran dan rasa tanggung jawab yang mendasari dirinya untuk tetap berusaha.

Bait ketiga        :

Ayah merupakan laki-laki panutan bagi anak-anaknya, yang kelak dapat ditiru segala perbuatan baiknya. Apa yang dilakukan seorang ayah tersebut akan selalu dikenang oleh anak-anaknya hingga kelak ia menjadi orang tua seperti ayahnya.

Bait keempat    :

Ayah merupakan kebanggaan dan panutan bagi keluarganya, terutama anak-anaknya. Sikap baik ayah tersebut akan ditiru kelak oleh anak-anaknya, sehingga anak-anaknya dapat menjadi orang tua yang baik bagi anak mereka kelak.

Kesimpulan      :

Kesimpulan dari puisi di atas adalah sang ayah merupakan suatu kebanggaan dan panutan yang baik bagi anak-anaknya. Kesederhanaan dan tutur katanya yang baik akan mampu menjadi contoh yang baik.

 

Puisi Kelima

Dia itu Ayahku

Sang fajar mulai bersinar
Hentakan kaki seakan bergemuruh
Suara sepatu seakan bergemuruh
Hendak pergi mengucap
salam
        tak
ada rasa lelah
        tak ada rasa malas
        untuk bekerja seharian
peluh
yang bercucuran
tak pernah kau hiraukan
laksana santapan
kau siapa untuk memakannya
bukan mencari harta semata
tujuan hati
        bukan
pula menduduki jabatan
        yang kau sayangi
        tetapi demi menafkahi
        keluarga yang dicintai
        kau bagaikan
contoh teladan untukku
kau pulalah
yang mengajarkan
kita harus bisa survive
di hidup yang keras ini
        sungguh jasa dan pengorbananmu
        AYAH....
        tidak akan ku lupa
        sampai nanti

 

Analisis puisi  

Bait pertama     :

Bait ini bercerita tentang kerja keras dan semangat ayah dalam mencari nafkah. Saat hari mulai pagi ia sudah bersiap melangkahkan kakinya untuk mencari nafkah. Dan selalu salam yang diucapkan saat hendak meninggalkan rumah.

Bait kedua        :

Ayah tidak pernah lelah bahkan malas dalam bekerja. Semua itu ia lakukan demi menghidupi keluarganya yang sangat ia cintai.

Bait ketiga        :

Ayah tak pernah mengeluh dalam bekerja. Walau bagaimanapun rasa lelah menghinggapi dirinya namun ia tetap semangat menjalani semuanya. Semua itu ia lakukan semata-mata bukan untuk mencari harta namun juga untuk mencari ridho dan pahala dari Allah swt. ia melakukan semua itu demi kewajiiban dan tanggung jawab kepada keluarganya.

Bait keempat    :

Ayah merupakan panutan dan teladan yang baik bagi anak-anaknya. Karena ayahlah yang selalu mengajarkan anaknya untuk dapat terus menjalani hidup yang keras ini.

Bait kelima       :

Seorang anak tidak akan pernah melupakan kerja keras dan pengorbanan ayahnya yang telah banyak mengeluarkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk membesarkan anak-anaknya.

Kesimpulan      :

Dalam mencari nafkah ayah selalu ikhlas dan tak pernah mengeluh dalam mecari nafkah untuk keluarganya. Ia melakukannya semata-mata untuk mengejar harta, namun lebih dari itu juga ia lakukan untuk mengharapkan ridho dari Allah dan untuk melakasanakan kewajiban dan tanggung jawabnya kepada keluraganya.sehingga ayah merupakan contoh teladan yang baik bagi anak-anaknya. Dan kelak,pengorbanan itu akak selalu dikenang oleh anaknya.

 

KESIMPULAN

Kelima puisi di atas menceritakan tentang pengorbanan seorang ayah dalam menghidupi keluarganya. Ia rela banting tulang demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia tidak pernah mengeluh dengan apa yang ia lakukan. Ia melakukannya dengan ikhlas semata-mata agar anak dan istrinya bisa makan, sekolah dan untuk memenuhi kebutuhan lainya. Ayah tidak pernah meminta imbalan apa-apa. Cukup dengan melihat anak dan istrinya bahagia ia pun sangat bahagia.

AMANAT

Amanat yang terkandung dalam puisi di atas yaitu kita diingatkan tentang besarnya pengorbanan seorang ayah untuk mendidik dan menghidupi keluarganya. Untuk itu kita semestinya harus selalu tunduk dam patuh kepadanya, serta selalu memperlakukannya dengan penuh kasih saying. Sungguh tidak pantas apabila kita menentangnya, mengingat begitu banyak hal yang telah ia lakukan untuk kita. Ia tidak pernah mengeluh dan selalu bekerja keras demi kita. Maka sudah sewajarnya kita harus menghormatinya. Jika kita tidak mampu mebalas semua jasa-jasanya dengan harta benda mungkin hanya denga kasih sayang, rasa hormat dan prilaku baik sudah cukup untuk bisa membahagiakannya. Untuk itu sebelum terlambat tunjukkanlah rasa kasih saying mu kepada ayah, karena tanpa beliau kita tidak akan pernah bisa menjadi siapa-siapa seperti sekarang ini.
READ MORE - ANALISIS PUISI BERTEMA “ Pengorbanan Seorang Ayah”

ANALISIS PUISI TEMA KEHIDUPAN SOSIAL


1.    Puisi Gadis Peminta-minta

 

GADIS PEMINTA-MINTA
Karya : Toto Sudarto Bachtiar

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemanjaan riang

Duniamu yang lebih tinggi dari menara Katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu tak ada yang punya
dan kotaku, ah kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda.

 

Analisis puisi Gadis Peminta-minta :

Puisi Gadis peminta-minta terdiri atas empat bait dan enam belas larik/baris.

*     Pada bait pertama digambarkan bahwa si penyair merasa kasihan/ iba kepada pengemis. Hal tersebut dapat dilihat pada larik yang berbunyi “senyummu terlalu kekal untuk kenal duka”. Pada larik tersebut  dikatakan bahwa senyum si pengemis yang tidak pantas mengenal duka artinya si pengemis tidak seharusnya menderita.

     Selanjutnya pada larik yang berbunyi “tengadah padaku, pada bulan merah jambu”. Larik tersebut menggambarkan si pengemis yang meminta (sedekah) kepada orang-orang yang mampu (kaya) dengan harapan untuk diberi sedekah. Karena berdasarkan hasil analisis saya kata-kata bulan merah jambu diisyaratkan sebagai orang yang mampu,  yang mempunyai perasaan seperti yang telah kita ketahui bahwa pink/ merah jambu merupakan warna yang menggambarkan kelembutan.

     Sedangkan pada larik terakhir pada bait pertama “Tapi kota ku jadi hilang, tanpa jiwa”. Menggambarkan bahwa kota/ tempat tinggal penyair/ dunia akan terasa hilang/ tak ada artinya tanpa jiwa. Jiwa berarti si pengemis.

*     Pada bait kedua tersirat makna bahwa si penyair ingin merasakan bagaimana kehidupan si pengemis yang tinggal di bawah jembatan, yang hidup berangan-angan, yang gembira dari kepalsuan (si pengemis bisa merasa gembira padahal hidupnya tak menentu).

*     Bait ketiga menggambarkan rasa bangga si penyair kepada si pengemis. Hal tersebut terliahat pada larik yang berbunyi “Duniamu lebih tinggi dari menara katedral”

Seperti yang telah kita ketahui menara katedral merupakan menara sebuah gereja , yaitu gereja katedral. Dan tentunya menara tersebut tinggi. Dalam hal ini dapat dikaitkan dengan kehidupan si pengemis, misal dalam hal berbagi kepada sesama, rasa kebersamaan yang tinggi, kesabaran dan ketabahan dalam menjalani kehidupan. Hal- hal tersebut dapat dibandingkan dengan kehidupan orang-orang yang mampu, apakah iya orang-orang yang mempunyai kelebihan dalam materi semunya bisa bersifat demikian??. Dilanjutkan dengan larik-larik berikutnya yang menggambarkan kehidupan pengemis yang tentunya sangat jauh dengan kehipuan kita sebagai orang yang mempunyai kelebihan materi. Namun, walupun demikian si pengemis tetap sabar dan tabah dengan semua itu.

Dua larik terakhir pada bait ketiga menggambarkan ketidaktegaan si penyair melihat kehidupan tersebut seperti yang digambarkan di atas sehingga penyair merasa bahwa si pengemis tak bisa ikut menanggung kesedihan si penyair.

*     Pada bait terakhir menggambarkan imajinasi penyair bahwa jika si pengemis tak ada di dunia ini maka di mana tempat kita bercermin ? Artinya dengan adanya mereka kita akan menyadari bahwa masih ada orang lain di bawah kita yang tak mampu hidupnya. Jadi kita dapat bersyukur dengan anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita.

*     Amanat yang disampaikan oleh penyair yang dapat saya tangkap adalah bahwa kita sebagai umat manusia harus saling tolong-menolong, perhatikan mereka; orang yang tak berkecukupan dalam hidupnya. Karena dengan adanya mereka seperti yang tersirat dalam bait terakhir bahwa dengan adanya/ hadirnya mereka kita dapat lebih menghargai hidup. Bahasa sederhananya “masih ada orang di bawah kita”.

 

2. Puisi Perempuan-Perempuan Perkasa

 PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA

Karya : Hartoyo Andangjaya

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari manakah mereka
ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
sebelum peluit kereta pagi terjaga
sebelum hari bermula dalam pesta kerja

Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta, kemanakah mereka
di atas roda-roda baja mereka berkendara
mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota

Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka : cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa

Analisis puisi Perempuan-perempuan Perkasa:

Puisi Perempuan-perempuan Perkasa terdiri atas tiga bait. Bahasa yang digunakan cukup sederhana suhingga mudah dipahami.

*     Bait pertama menggambarakan kehidupan para ibu-ibu desa/ pekerja. Seperti yang tersirat pada larik-larik tersebut yang mengatakan bahwa para perempuan pekerja yang pergi mencari nafkah di pagi-pagi buta.

*     Bait kedua pun sama namun lebih ditekankan bagaimana sang perempuan-perempuan tersebut berlomba dengan sang surya, merebut hidup di kota à artinya perjuangan sang perempuan pekerja yang mempunyai banyak saingan baik dari teman-temannya sendiri maupun dari orang lain.

*     Bait ketiga menggambarkan kebanggan si penyair kepada perempuan-perempuan pekerja. Terlihat pada larik yang berbunyi “mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa”. Dari larik tersebut menggambarkan bagaimana kekuatan sang perempuan-perempuan dalam mengarungi hidupnya; hidup keluarganya; perempuan tersebut mampu menjadi tulang punggung keluraga.

*     Amanat yang disampaikan dalam puisi tersebut adalah kita harus menghargai perempuan. Hal tersebut dapat dilihat dari setiap larik-larik pada bait puisi tersebut. Dimana dalam perjuangan hidupnya, perempuan-perempuan tersebut tidak mengenal waktu seperti yang tersirat dalam larik “sebelum peluit kereta pagi terjaga” dan larik-larik lainnya. Selain itu keseluruhan puisi tersebut menggambarkan : perempuan-perempuan perkasa itu adalah perempuan-perempuan  yang berasal dari rakyat jelata , perempuan teladan, mereka berjuang mencari nafkah tanpa mengenal lelah, mereka menjadi tumpuan hidup penduduk desa perbukitan, bahkan sampai ke kota-kota sekitarnya.

 

3. Puisi Orang-Orang Miskin

Orang-orang Miskin

Karya: W.S Rendra

Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.

Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raya.

Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.

Bila kamu remehkan mereka,
di jalan kamu akan diburu bayangan.

Tidurmu akan penuh igauan,
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.

Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.

Orang-orang miskin di jalan
masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.

Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.

Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.

Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,

bagai udara panas yang selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim

 

Analisis puisi Orang-orang Miskin :

Puisi tersebut terdiri atas delapan bait. Bahasa yng digunakan/ pilihan katanya terkadang sulit untuk dipahami namun jika kita bisa menghubungkannkya dengan makna leksikal dan gramatikal/ konotasinya maka kita akan dapat memahaminya.

*     Bait pertama menggambarkan kehidupan orang-orang miskin. Hal tersebut sudah jelas dalam setiap larik yang ada pada bait tersebut. Pada larik terakhir penyair menekankan kepada pembaca atau pendengar bahwa kita tidak boleh meninggalkan mereka.

Berikut saya mencoba menganalisis larik demi larik pada puisi tersebut:

Orang-orang miskin di jalan à terdapat orang-orang miskin di jalan

yang tinggal di dalam selokan à dapat diartikan sebagai tempat tinggal orang-orang miskin yang tinggal di kolong jembatan.

yang kalah dalam pergulatan à orang-orang miskinlah yang selalu kalah dalam pergulatan yang ada; hal ini menandakan orang yang ekonominya lebih tinggi akan lebih unggul dari orang-orang yang ekonominya lemah.

yang diledek oleh impian à menggambarkan bahwa orang-orang miskin hanya bisa bermimpi dan tidak akan bisa mencapai impiannya. Misal dalam hal keberuntungan mereka jarang sekali mendapatkan keberuntungan berbeda dengan orang yang berada di atas mereka tentunya lebih sering mendpatkan keberuntungan.

*     Bait kedua menggambarkan hal yang sama yaitu bagaimana kehidupan orang-orang miskin. Berikut adalah hasil analisis dari setiap larik yang ada;

Angin membawa baju mereka à makna yang tersirat yaitu menyatakan bahwa orang miskin itu banyak jumlahnya; dapat dianalogikan dengan angin yang membawa bau baju. Seperti kita ketahui angin itu ada di mana-mana dan jika ia membawa sesuatu tentunya kita akan merasakannya.

Rambut mereka melekat di bulan purnama à larik ini tentunya berhubungan dengan larik sebelumnya. Jadi karena orang miskin itu banyak, penyair menggambarkan mereka sampai pada bulan/ langit yang dianalogikan sebagai rambut yang dapat melekat di bulan purnama.

Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala, mengandung buah jalan raya à berdasarkan hasil analisis, saya mengatakan bahwa orang miskin yang mengandung anak-anaknya yang nantinya juga akan menjadi orang miskin juga yang tinggal di jalan-jalan sama seperti sang  ibu yang mengandungya. Sehingga orang miskin semakin banyak populasinya.

*     Bait ketiga pun sama dengan bait pertama dan kedua. Berikut analisis larik per larik:

Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa à seperti yang terlihat dalam realita banyak orang miskin yang memenuhi kebutuhan hidupnya dengan melakukan dosa. Dalam puisi tersebut dosa tersebut diisyaratkan dengan perempuanyang menjual dirinya dalam  hal ini lebih jelasnya tersirat pada larik kedua pada bait ketiga.

Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya à sepeti yang sudah disinggung pada larik pertama tadi yang menyatakan perbuatan dosa yang dilakukan oleh orang miskin yang menjual dirinya tentunya akan membuahkan bayi gelap dalam batiny yang dianalogikan sebagi dosa dan kata-kata rumput dan lumut jalan raya mengisyaratkan tempat mereka hidup/ mangkal.

Pada larik terakhir penyair menekankan agar kita tidak mengabaikan mereka, karena kita sama-sama manusia.

*     Bait keempat menggambarkan balasan/ akibat jika kita tidak memperdulikan mereka/ orang miskin.

     Bila kamu remehkan mereka,

     di jalan kamu akan diburu bayangan à menggambarkan bahwa kita akan diburu oleh dosa.

     Tidurmu akan penuh igauan dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka à menggambarkan bahwa kita tidak akan tenang karena merasa bersalah kepada orang miskin.

*     Bait kelima meggambarkan kehidupan si miskin dan si kaya. Terlihat jelas pada setiap larik yang ada. Misal pada larik “jangan bilang dirimu kaya bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya”

     Pada larik “lambang negara ini mestinya trompah dan balcu à artinya karena negara kita masih terdapat orang miskin/ meningkatnya kemiskinan maka trompah dalah lamabang yang teppat karena seperti yan telah kita ketahui terompah merupakan alas kaki yang terbuat dari kayu, dan alas kaki tentunya selalu berada di bawah artinya negara kita seakan-akan berada di bawah garis negara-negara berkembang lainnya. Sedangkan belacu menggambarkan kelemahan, karena blacu merupakan sebuah kain. Seperti kita ketahui kain itu lembek, tak bisa kaku; jika dianalogikan dengan negara kita maka negara kita tidak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan dari negara lain jadi masih lemah. Sehingga berdampak pada kehidupan penduduknya; meningkatnya kemiskinan.

*     Bait keenam menggambarkan kehidupan orang miskin lagi yang diakhiri dengan pesan agar kita tidak boleh membiarkan mereka; harus peduli.

*     Bait ketujuh menyatakan bahwa kemiskinan itu benar-benar selalu menghantui kita, malah dapat dikatakan merajalela.

*     Begitu pula bait kedelapan yang menggambarkan kemiskinan itu sudah ada sejak zaman dahulu sampai sekarang. Namun walupun demikian kita harus tetap berbelas kasih kepada mereka karena kita adalah manusia ciptaan Tuhan yang sama. Hal ini tersirat pada larik terakhir yaitu “orang-orang miskin juga bersal dari kemah Ibrahim”.

 

4. Sajak Burung-Burung Kondor

Sajak Burung-Burung Kondor

Karya: W.S. Rendra

Angin gunung turun merembes ke hutan,
lalu bertiup di atas permukaan kali yang luas,
dan akhirnya berumah di daun-daun tembakau.
Kemudian hatinya pilu
melihat jejak-jejak sedih para petani – buruh
yang terpacak di atas tanah gembur
namun tidak memberi kemakmuran bagi penduduknya.

Para tani – buruh bekerja,
berumah di gubug-gubug tanpa jendela,
menanam bibit di tanah yang subur,
memanen hasil yang berlimpah dan makmur
namun hidup mereka sendiri sengsara.

Mereka memanen untuk tuan tanah
yang mempunyai istana indah.


Keringat mereka menjadi emas
yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu di Eropa.
Dan bila mereka menuntut perataan pendapatan,
para ahli ekonomi membetulkan letak dasi,
dan menjawab dengan mengirim kondom.

Penderitaan mengalir
dari parit-parit wajah rakyatku.
Dari pagi sampai sore,
rakyat negeriku bergerak dengan lunglai,
menggapai-gapai,
menoleh ke kiri, menoleh ke kanan,
di dalam usaha tak menentu.
Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah,
dan di malam hari mereka terpelanting ke lantai,
dan sukmanya berubah menjadi burung kondor.

Beribu-ribu burung kondor,
berjuta-juta burung kondor,
bergerak menuju ke gunung tinggi,
dan disana mendapat hiburan dari sepi.
Karena hanya sepi
mampu menghisap dendam dan sakit hati.

Burung-burung kondor menjerit.
Di dalam marah menjerit,
bergema di tempat-tempat yang sepi.

Burung-burung kondor menjerit
di batu-batu gunung menjerit
bergema di tempat-tempat yang sepi

Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu,
mematuki batu-batu, mematuki udara,
dan di kota orang-orang bersiap menembaknya.


Analisis puisi Sajak Burung-Burung Kondor :

Puisi tersebut terdiri atas delapan bait. Diksi/ pilihan katanya ada yang  mudah dipahami dan ada yang sulit diterka-terka apa maknanya.

*     Bait pertama menggambarkan bagaimana para pekerja/ buruh yang telah menguras tenaganya untuk banting tulang namun hasil yang ia dapatkan tak dapat memberikan kemakmuran baginya. Hal tersebut semakin diperjelas pada larik terakhir bait tersebut.

*     Bait kedua pun masih mengisahkan kehidupan para pekerja/ buruh yang tetap sengsara dengan hasil panen mereka yang berlimpah. Hal tersebut terlihat bertolak belakang, padahal seharusnya mereka mendapatkan hidup yang makmur bukan sengsara.

*     Bait ketiga menggambarkan bahwa yang membuat mereka; pekerja/ buruh sengsara adalah karena mereka memanen untuk tuan tanah, jadi bukan untuk dirinya sendiri. Hal tersebut jelas terlihat pada setiap larik pada bait tersebut.

*     Bait keempat menggambarkan bagaimana penderitaan rakyat; pekerja/ buruh yang diakibatkan oleh para tuan tanah; orang yang mempekerjakannya. Seperti yang terlihat pada larik kedelapan sampai terakhir dalam bait tersebut;

“Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah”à artinya tak akan ada yang mempedulikan mereka lagi ketika mereka sudah tidak berguna (dilukiskan dengan kata-kata ‘di hari senja’).

*     Bait kelima menggambarkan kehidupan rakyat; pekerja/ buruh yang dianalogikan sebagai burung-burung kondor. Pada realitanya burung-burung kondor sering diburu oleh para manusia. Jika dihubungkan dengan puisi tersebut maka akan didapatkan bahwa ‘burung kondor = rakyat; pekerja/ buruh’ dan ‘manusia pemburu = para cukong-cukong negara; tuan tanah’.

*     Bait keenam mengisahkan tentang rakyat; pekerja/ buruh yang meluapkan perasaannya; marah. Namun luapan perasaan itu hanya bergema di tempat sepi maksudnya tidak di dengar oleh para cukong/ tuan tanah.

*     Bait ketujuh sama dengan bait keenam.

*     Bait kedelapan/ terakhir menceritakan tentang rakyat; pekerja/ buruh yang bekerja keras membanting tukang namun hanya untuk para cukong/ tuan tanah/ para pembesar. Dalam puisi tersebut digambarkan dengan ‘Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu’ dan seterusnya. ‘batu = benda keras ; pekerjaan rakyat yang keras; menguras tenaga.


5. Puisi Rakyat

Rakyat
Karya : Hartoyo Andangjaya

Rakyat ialah kita
jutaaan tangan yang mengayun dalam kerja
di bumi di tanah tercinta
jutaan tangan mengayun bersama
membuka hutan-hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga
mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota
menaikkan layar menebar jala
meraba kelam di tambang logam dan batubara
Rakyat ialah tangan yang bekerja

Rakyat ialah kita
otak yang menapak sepanjang jemaring angka-angka
yang selalu berkata dua adalah dua

yang bergerak di simpang siur garis niaga

Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka
Rakyat ialah kita
beragam suara di langit tanah tercinta
suara bangsi di rumah berjenjang bertangga
suara kecapi di pegunungan jelita
suara bonang mengambang di pendapa
suara kecak di muka pura
suara tifa di hutan kebun pala
Rakyat ialah suara beraneka

Rakyat ialah kita
puisi kaya makna di wajah semesta
di darat
hari yang beringat
gunung batu berwarna coklat
di laut
angin yang menyapu kabut
awan menyimpan topan
Rakyat ialah puisi di wajah semesta

Rakyat ialah kita
darah di tubuh bangsa
debar sepanjang mas


Analisis puisi Rakyat :

Puisi tersebut terdiri atas lima bait. Pilihan kata/ diksi yang digunakan oleh oenyair dapat dipahami dengan mudah.

          Puisi tersebut menceritakan tentang kehidupan rakyat yaitu siapakah rakyat itu Bagaimana kehidupan rakyat ? Apa yang dilakukan oleh rakyat ? Hal tersebut jelas digambarkan penyair dalam setiap larik pada bait-bait yang ada. Diksi/ pilihan kata yang digunakan oleh penyair mudah dipahami; sederhana. Dalam setiap larik puisi menggambarkan pekerjaan yang dilakukan oleh rakyat seperti pada larik-larik yang diambil secara acak berikut:

mengepulkan asap dari cerobong-cerobong pabrik di kota à   rakyat yang bekerja di pabrik.

Menaikkan layar menebar jala à rakyat yang pekerjaannya sebagai nelayan.

meraba kelam di tambang logam dan batu bara à rakyat yang bekerja di pertambangan; buruh tambang.

yang bergerak di simpang siur garis niaga à rakyat yang berdagang.

          Secara keseluruhan puisi tersebut mengisahkan rakyat itu adalah penguasa yang ada di muka bumi ini. Hal tersebut jelas terpatri pada larik yang berbunyi “darah di tubuh bangsa’ debar sepenjang masa”.

          Amanat yang disampaikan yaitu kekuasaan berada di tangan rakyat. Sehingga kita akan dapat mengetahui rakyat itu adalah seperti yang digambarkan penyair pada setiap larik puisinya.

 

Amanat yang terkandung dalam puisi yang bertemakan sosial

     Kelima puisi yang dianalisis tersebut di atas memiliki tema yang sama yaitu sosial. Namun setiap puisi tentunya memiliki perbedaan dalam penyampaian makna. Hal tersebut sesuai dengan otoritas penyair/ pengarang, sehingga menimbulkan sub tema-sub tema tertentu. Akan tetapi karena kelima puisi tersebut berada dibawah naungan tema sosial maka dapat kita tarik suatu hal yang sebenarnya ingin diungkapkan oleh para penyair. Puisi yang bertemakan sosial selalu menyampaikan hal-hal yang tentunya berhubungan dengan kehidupan masyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat lapis sosial; kaya-miskin. Sehingga tidak heran sering terjadinya perselisihan antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya.

     Kelima puisi tersebut di atas menggambarkan kehidupan masyarakat yang dilatarbelakangi oleh perbedaan ekonomi; kaya-miskin. Para penyair berusaha untuk menyadarkan kita agar kita bisa saling menghargai, tolong-menolong, dan peduli terhadap sesama. Walaupun kita berbeda namun kita tetap merupakan manusia yang sama di hadapan Tuhan.


READ MORE - ANALISIS PUISI TEMA KEHIDUPAN SOSIAL

Senin, 20 Oktober 2014

[vid] Musikalisasi Puisi


Sapardi Djoko Damono - Aku Ingin
 

Sapardi Djoko Damono - Hujan Bulan Juni
 

Chairil Anwar - Aku
 

Chairil Anwar - Karawang Bekasi

Sapardi Djoko Damono - Gadis Kecil


READ MORE - [vid] Musikalisasi Puisi

Kamis, 02 Oktober 2014

PR Bahasa Indonesia Kelas IX C & D


✿✿✿ download di sini ✿✿✿

KD 4.2 Meresensi buku pengetahuan
READ MORE - PR Bahasa Indonesia Kelas IX C & D